Menu
Akurat, Berani & Terpercaya

Beragam Alasan Kenaikan Harga BBM

  • Bagikan

ditulis
oleh : Ridwan Andi Usman

Dalam wacana dan diskursus, ragam penjelasan dibutuhkan untuk memperkaya perspektif dan simulasi dalam merumuskan suatu konsep tertentu. Tetapi, untuk sebuah kebijakan negara, yang dilatari oleh beragam penjelasan yang tak bertautan satu dengan lainnya, justru akan memunculkan kegaduhan, ketidak percayaan, bahkan apriori.

Kenaikan harga BBM, yang sesungguhnya bermula dari perubahan mata rantai pasok global secara drastis, yang berakibat pada kenaikan harga minyak mentah yang mencapai 105 dollar perbarel yang sebelumnya dikisaran 60an dollar perbarel. Sebetulnya ekonom, sudah mengingatkannya, bhw kemungkinan akan terjadi krisis energi dan pangan akibat terganggunya rantai pasok global.

Pada 2018 Presiden Amerika Serikat Donal Trump mencanangkan perang dagang terhadap China. Sejak itu, keadaan ekonomi global terganggu, berbagai strategi dagang diberlakukan ke dua negara adidaya ekonomi tersebut . Akibat lalu lintas perdagangan dunia menjadi tidak sehat. Di tengah kekwatiran kr persaingan tidak sehat tersebut, datang pandemi meluluh lantakkan tidak hanya ekonomi tetapi seluru sendi2 kehidupan manusia. Hampir semua negara mengalami resesi dengan tingkat kedalaman yg berbeda.

Krisis politik (invasi Rusia terhadap Ukrania) membuat rantai pasok global semakin runyam, suplai energi dan pangan dari dua negara tersebut sangat berpengaruh terhadap kebutuhan global. Embargo ekonomi terhadap Rusia oleh Amerika serikat dan negara2 eropa, dijawab dengan pengurangan pasokan gas dan bahan energi lainnya. Krisis ini memicu kenaikan harga minyak mentah, CPO, batu bara dan bahan baku energi lainnya.

Baca Juga:  Pesan Tertulis Di Dinding Kusam Ruang Kerjaku

Krisis energi dan pangan global, tidak langsung berpengaruh kepada negeri kita. Selain karena ketergantungan eksport yang rendah dan tingginya konsumsi domestik. Negeri kita juga memiliki ketersediaan komoditas pangan dan bahan baku energi, berupa CPO dan batu bara. Beberapa ilmuan ekonomi berpandangan, bahwa negeri kita untuk sementara ekonominya stabil, nilai tukar rupiah terhadap dollar aman, dan inflasi terkendali. Tetapi sekali lagi, itu bukan karena fundamental ekonomi kita yg kuat dan solid, tetapi hanya faktor keberuntungan, ibarat durian runtuh (winfall).

Kenaikan harga CPO dan batu bara di pasar internasional, JPMorgan, memperkirakan Surplus Neraca pembayaran Indonesia meningkat dari 3,2 milyar dollar As menjadi 33 milyar dollar As, Neraca barang dan jasa yang sebelumnya diperkirakan defisit 5 milyar dollar As menjadi surplus sebesar 64,2 milyar dollar As. Inilah keberuntungan yg didapatkan negeri kita, keberuntungan ini pulalah yg dikonversi sebagai penerimaan negara, untuk menutupi melejitnya harga minyak mentah di pasar internasional, shg pemerintah tdk mengurangi subsidi BBM diketika itu.

Seiring negosiasi politik yg memungkinkan aktivitas ekspor di kedua negara tersebut (Rusia & Ukraina), harga2 komoditas yang tadinya melejit mengalami penyesuaian, termasuk di dalamnya CPO, batu bara dan bahan pangan lainnya. Keberuntungan (Winfall) yang diterima Indonesia karena kenaikan harga komoditas mengalami penurunan. Negeri kita yang tadinya terlena dan merasa aman2 saja, kr ada pendapatan lain untuk menutupi kenaikan harga minyak mentah, menjadi kelimpungan karena tingginya subsidi BBM yang harus disesuaikan dg kenaikan harga minyak internasional.

Baca Juga:  Bola Bocor Konteksnya Dengan Kepemimpinan

Jadi sesungguhnya alasan kenaikan harga BBM, karena adanya kenaikan harga minyak mentah internasional, yang menyebabkan pertalite dan solar sangat berselisi dari harga keekonomiannya. Pemerintah mesti mensubsidi solar sebesar 8.000 perliter dan pertalite 6.800 perliter. Pemerintah yang tadinya hanya menganggarkan Rp 152,5 triliun di APBN 2022 melejit menjadi Rp 502, 4 triliun. Pemerintah kurang tanggap membaca perubahan dan gejolak ekonomi global.

Bahwa subsidi BBM yang tidak tepat sasaran, yang katanya lebih dari 60% kelas menengah ke atas yang menikmatinya, sesungguhnya bukanlah alasan pokok pengurangan subsidi dan kenaikan harga BBM. Sekali pun ini ada benarnya secara ekonomi, tetapi alasan ini masih memunculkan pertanya dan debatable di tengah masyarakat. Misalkan, pertama ; Kenapa setiap ada gejolak harga, baru issu tidak tepat sasaran digelindingkan, kenapa tidak dibuatkan skema yg lbh terencana untuk nol persen subsidi. Kedua; Apakah benar 60% kelas menengah ke atas sbg penikmat subsidi BBM, aktivitas ekonominya tidak berpengaruh langsung kepada masyarakat miskin. Jangan-jangan kegiatan ekonomi 60% kelas menengah ini lebih berpengaruh signifikan terhadap kegiatan ekonomi rakyat miskin dari pada belanja negara itu sendiri.

Baca Juga:  Jadi Narsum, Kanit Tipikor Polres Sinjai Paparkan Ini

Pertanyaan selanjutnya, jika subsidi dianggap tidak tepat sasaran, kenapa pemerintah tidak memilih instrumen fiskal yang lain berupa penarikan pajak yang lebih besar kepada penikmat subsidi yg tidak tepat. Kalau pemerintah beranggapan bahwa ada belanja lain yg lbh produktif dari pada subsidi BBM, kenapa bukan belanja tersebut yang disusun apik, terencana dan terpercaya, lalu disosialisasikan kepada rakyat. Kenapa memilih bantalan sosial sebagai kompensasi yang memilukan.

Bantalan sosial berupa bantuan langsung tunai sebesar Rp.150. 000 kepada 20,6 juta penerima manfaat selama empat bulan. bantuan ini kalau diratakan perharinya, maka warga miskin akan menerima 5.000 rupiah perharinya. Uang sebesar 5.000 rupiah perhari, dapatkah disebut bantalan sosial. Layak kah secara ekonomi uang lima ribuh dalam satu hari dijadikan penambal kegiatan ekonomi rakyat miskin. Kenapa pemerintah tidak sekalian mengambil langkah besar, pencabutan subsidi BBM dibagi seluruhnya kepada 26,7 juta rakyat miskin sebagai belanja modal. Besaran ini tidak hanya menambah daya beli masyarakat miskin, tetapi bisa jadi modal kegiatan ekonomi produktif untuk naik kelas.

Kompensasi ini bukanlah bantalan sosial, hanya sekedar pelipur lara di tengah masyarakat yg juga kelimpungan mengikuti ritme para elitnya.

Semoga saja ada kearifan dan kebijakan pemerintah menyaksikan jeritan rakyat hari – hari ini.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *