Menu
Akurat, Berani & Terpercaya

Bola Bocor Konteksnya Dengan Kepemimpinan

  • Bagikan

Oleh : Muhammad Yusuf Buraerah, SH

BOLA BOCOR salah satu olahraga kegemaran rakyat Sulawesi Selatan. Permainan ini sudah dikenal masyarakat mulai dari zaman kerajaan atau jauh sebelum Indonesi merdeka, tanggal 17 Agustusl 1945. Sepak raga/bola bocor konon khabarnya masih berstatus sebagai olahraga teradisional kala itu. Permainan hiburan (Maddaga red) istilah khasnya di “Bumi Panrita” Kitta Kab. Sinjai, kampung kelahiran penulis.

Tidak lekang dimakan waktu, olahraga takraw/bola bocor tetap jaya di Sulawesi Selatan sampai sekarang ini. Bahkan takraw Sulsel cukup disegani oleh provinsi lainnya di Indonesia. Malahan saat ini kapten timnas Indonesia, Hardiansya Muliang (Manca) adalah putra kelahiran Sulsel. Penulis tidak ingin terlalu jauh dari pembahasan hanya sekedar berbagi pengetahuan terkait Bola Bocor/sepak takraw.

Baca Juga:  JAM-Intelijen Dr. Manthovani : Netralitas Desa Menyukseskan Pemilu Damai

Permainan sepak takraw, mulai dari skill individual, serta skill berpasangan harus dilatih secara berkesinambungan. Karena merupakan permainan tim “kolaborasi” semua pemain sangat menentukan suksesnya suatu tim.

Tekong harus mantap servisnya sebagai serangan awal dan toser harus mampu bergerak cepat menjemput bola kedua dan memaksimalkan bola pertama yang mengarah kepadanya berbuah umpan, demikian juga smeser menyelelesaikan dengan pukulan terarah memadukan taktik plas atau pukulan keras.

Baca Juga:  Kapolres Sinjai: Para Penanggung Jawab Fungsi Berikan Arahan Khusus Anggotanya

Itulah gambaran permainan takraw apabila dimaknai dalam kepemimpinan, lebih mengarah pada kerja tim dalam artian satu kesatuan antara atasan dan bawahan. Jika salah satunya melampaui batasan maka dipastikan hasil dari program – program kerjanya tidak maksimal. Ada kepincangan menyumbat pencapaian prestasi.

Selain itu, harus ditopang kemampuan dasar dalam melaksanakan tugas . Agar Masing-masing mampu bertanggung jawab atas posisinya. Pemimpin berperan aktif agar tercipta keseimbangan. Tidak berkutak pada kewenangan semata agar terhindar dari perangai otoriter. Begitupun bawahan, harus mengetahui batasan-batasan tidak melampauinya. Seirama mencapai tujuan bersama sesuai target rencana kerja. Karena sukses itu didalamnya ada kekompakan, kebersamaan ditopang skill yang mapan.

Baca Juga:  Gelar Seminar, Ini Harapan Ketua DWP Sinjai

Sinjai 17 Oktober 2022

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *