Menu
Akurat, Berani & Terpercaya

Keren, Belum Cukup 2 Bulan Bertugas Sebagai Pj Bupati Sinjai, TR Fahsul Falah Panen Penghargaan

  • Bagikan

Oleh : Muhammad Yusuf Buraerah, SH.

OPINi, nuansainfonews.com – TR Fahsul Falah resmi memimpin Kabupaten Sinjai sebagai Penjabat (Pj) Bupati setelah dilantik Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar, pada Senin (26/09/2023).

Meskipun usia kepemimpinannya sebagai Pj Bupati Sinjai baru genap dua bulan pada Minggu (26/11/2023), namun TR Fahsul Falah telah panen penghargaan.

Seperti penghargaan yang diterima TR Fahsul Falah sebagai juara harapan I dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada ajang South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2023. di Hotel Claro, Makassar pada Rabu (04/10/2023).

Kemudian pada Jumat (06/10/2023) TR Fahsul Falah juga diganjar reward Dana Insentif Fiskal (DIF) dari Wakil Presiden RI yang jumlahnya mencapai 6,4 miliar atas kinerjanya dalam penurunan stunting di Kabupaten Sinjai.

Penghargaan bergensi lainnya diterima TR Fahsul Falah dari Kemendikbud Ristek RI di Senayan Jakarta, pada Jumat (18/11) malam atas implementasi Program Daerah Jawara Belajar.id di Kabupaten SInjai yang menempati rangking 2 tingkat nasional.

Selain itu, TR Fahsul Falah juga meraih Lencana Bakti Pembangunan Desa dari Menteri Desa PDTT, A. Halim Iskandar atas komitmen dan dedikasinya mendukung Lomba Desa Wisata Nusantara 2023.

Penghargaan yang mengantarkan Desa Panaikang, Kec.Sinjai Timur masuk 15 besar Lomba Desa Wisata Nusantara se-Indonesia dan berhasil meraih Juara ke-3 Kategori 2 (Desa Maju dan Mandiri) diterima TR Fahsul Falah di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (24/11/2023) malam.

Baca Juga:  Menilik Seriusnya Polri Mereformasi Diri

Keren, kata ini pantas disandangkan Buat Pj. Bupati Sinjai, T.R Fahsul Falah atas “segunduk” prestasi yang diterima hanya dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan memimpin di “Bumi Panrita Kitta”

Kata “Keren” ini harus ada sosok “heroik” didalamnya agar tidak tersenggol dengan hal-hal krusial. Memaknai capaian dari berbagai sudut pandang agar tidak ada “tergelincir”.

Bukankah kita semua sepakat dengan slogan klasik “Tidak ada keberhasilan tanpa proses”. Ada perencanaan mapan, kerja keras, kucuran keringat dan kerja tim.

Meraih “Seabrek” prestasi dengan jangka waktu dua bulan secara nalar tidak masuk akal. Bukan bermaksud mengatakan prestasi ini “sinsalabin”. Tidak lebih agar kita melihatnya secara utuh dan lebih dalam lagi, pastinya bermuara pada kata “warisan”.

Warisan harus dimaknai secara umum bahwa semua ada peranan didalamnya sebagai satu kesatuan tidak terpisahkan. Dari pemimpin sebelumnya (A. Seto – A. Kartini) dengan pemimpin saat ini (Pj. Bupati red).

Menelisik seabrek prestasi dua bulan memimpin Kabupaten Sinjai melahirkan kata “heroik” buat sosok, T.R Fahsul Falah. Lalu bagaimana dengan munculnya berbagai persoalan lainnya “menggelinding” bak bola panas. Mulai mandeknya pencairan dana desa, dana rekanan (kontraktor) insentif keagamaan, insentif tenaga kesehatan dan lainnya. Adakah sosok “heroik” dari T.R Fahsul Falah, menyelesaikan semua itu agar tidak menjadi ratapan pilu tak bertepi ?

Baca Juga:  T.R. Fahsul Falah Dalam Tiga Bulan Meniti Tantangan Penjabat Kepala Daerah

Lagi-lagi kata “warisan” menjadi penyelamat tanpa melihat secara utuh seabrek prestasi itu asal muasalnya juga merupakan ” warisan”.

Lebih khusus pada prestasi menurunkan stunting diganjar apresiasi pemerintah pusat dalam bentuk pemberian Dana Insentif Fiskal (DIF) sekitar Rp 6 Miliyar. Harus dikelola dengan baik, tepat sasaran agar tidak “hambar”. Kesan bagi-bagi dana harus ditebas. Jangan justru kelihatan tidak ada strategi yang jelas.

Dana DIF harus dikawal oleh APH. Seiring munculnya desas-desus kasus tentang sinyalemen penggunaan DIF untuk percepatan penurunan stunting untuk pengadaan yang tumpang tindih, program-program fisik bangunan, maintanance radio dan televisi dan spanduk sampai dengan proyek budi daya ikan lele dalam drum yang tidak jelas keterkaitannya baik dengan penyebab maupun dengan upaya penurunan stunting.

Seharusnya kegiatan yang tidak memiliki dampak signifikan penurunan stunting harus ditebas. Agar target menurunkan stunting menjadi 14 persen tahun 2024 tercapai. Rakor dan program lainnya yang tidak efektif dalam penurunan stunting sebaiknya diminimalisir.

Baca Juga:  Impresi Dan Hak Imunitas DPR - Polemik Pembangunan Kantor Gubernur

Menurunkan stunting melalui aplikasi insting sebagai program untuk penghimpunan satu data dan kampanye baliho. Memberi “sinyal” tidak adanya strategi yang jelas.

Jika kita mau berhenti sejenak menoleh ke belakang, dimana penanganan stunting di Sinjai, sebelumnya sudah diakui oleh Pusat yang dibuktikan dengan adanya penghargaan berupa DIF dari wapres sebesar Rp 6 Miliyar lebih yang diterima oleh Pj Bupati Sinjai, T.R Fahsul Falah. Apa ini bukan bukti “telanjang” program penanganan stunting selama ini sukses?

DIF sebaiknya digunakan melanjutkan upaya strategi Pemda sebelumnya yang berhasil menurunkan stunting. Bukan justru membuat program baru yang tidak jelas arahnya. Seperti kampanye stunting sudah ketinggalan karena penanganan stunting sudah berlangsung lama dan sudah sukses. Terkesan seperti baru mau memulai. Stunting tidak bisa dicegah atau diturunkan hanya dengan bentangan spanduk.

Pemda Sinjai harus terbuka dengan data akurat, jumlah penderita stunting, penyebabnya dan intervensi apa yang dibutuhkan untuk penanganannya. Agar ke depan tidak ada “tersandung”.

(Sinjai 28 November 2023)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *