Menu
Akurat, Berani & Terpercaya

Isu Fee Berbuntut Konferensi Pers Disdik Sinjai

  • Bagikan

SINJAI, nuansainfonews.com – Menggelikan telinga isu fee pengadaan buku mata pelajaran satuan pendidikan di lingkup Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, berbuntut konferensi pers, di aula Handayani, kantor Disdik Sinjai, Kamis 4 Januari 2024.

Runtut kegiatan ini, dihadiri langsung oleh Irwan Suaib, Kadisdik Sinjai, didampingi Kabid Pembinaan Guru Tenaga Kependidikan (PGTK), Kabid Sekolah Dasar (SD), pihak penyedia buku, Ketua MKKS tingkat SMP, Serta beberapa kepala sekolah, juga turut hadir Mansyur operator dari Kecamatan Sinjai Barat dan belasan jurnalis.

Diawal acara secara tegas, Irwan Suaib, Kadisdik Sinjai, mengatakan isu fee 40 persen yang ditudingkan ke pihak Disdik sebagaimana yang beredar akhir-akhir ini adalah tidak benar. Pihaknya menyebutkan pengadaan buku pada satuan pendidikan sama sekali tidak ada intervensi.

Baca Juga:  Eksis SD Negeri 42 Bikeru Sinjai

“Tidak ada fee 40 persen, kita tidak pernah intervensi sekolah dalam pengadaan buku” Tegasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Izhar dari pihak Erlangga, secara gamblang dikatakan pengadaan buku pada satuan pendidikan diawali dengan workshop gratis kepada pihak sekolah. Dan fee 40 persen yang dialamatkan ke Disdik Sinjai diakuinya tidak benar.

“Proses pengadaan buku itu melalui Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (Siplah). Tidak ada intervensi dan kita tidak pernah menyetor fee 40 persen ke Disdik” Ujarnya.

Demikian juga dengan penyedia buku lainnya yang menjadi mitra sekolah pada pengadaan buku tahun 2023, bergantian memberikan statementnya yang pada intinya menyebutkan tidak adanya fee 40 persen mengalir ke Disdik Sinjai.

Baca Juga:  Satuan Pendidikan Di Bumi Panrita Kitta Kian Memukau

Keterangan demi keterangan dilontarkan berbagai pihak, hingga suasana konferensi pers diruangan tersebut nampak berjalan “alot”. Hingga tiba giliran operator dari Kecamatan Sinjai Barat, Mansyur, yang disebut-sebut sebagai sumber utama mencuatnya isu fee 40 persen tersebut.

Secara detail diceritakan kronologi perkenalannya dengan salah seorang penyedia buku, hingga handponnya dipinjam dengan alasan handpon si peminjam kala itu dalam keadaan lobet.

“Saya tidak pernah melakukan chat seformal itu. Kami menduga orang yang meminjam hp saya yang punya chat. Nanti di kebun baru saya liat itu screenshot, itupun hanya biru-birunya yang saya langsung tindis. Tidak terlalu memperhatikan isi chat dalam screenshot itu” Urainya.

Baca Juga:  SD Negeri 113 Balle Bidik Literasi IT

Suasana di luar ruangan konferensi pers “menggelegar”. Bunyi petir beberapa kali membuat lampu dalam ruangan padam, hingga giliran Kepala SD Negeri 84 Mangarabombang, Syukur, S.Pd, angkat bicara menerangkan proses pengadaan buku di sekolahnya.

“Kita memesan buku berdasar kebutuhan sekolah dengan sistem Siplah. Tidak ada intervensi dan fee 40 persen” Tandasnya.

Demikian halnya ketua MKKS SMP, Nahiruddin, menyebutkan secara gamblang proses pengadaan buku adalah antara pihak sekolah dengan pihak penyedia.

“Tidak ada penekanan dan intervensi” Kuncinya. (Ucup)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *